Daftar e-mail untuk info terbaru

Walikota Banda Aceh Resmikan Pasar Seutui

  • Walikota Banda Aceh Resmikan Pasar Seutui
  •  

    Banda Aceh – Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE, Kamis (4/2/2016) meresmikan Pasar Seutui. Pasar dengan konsep pasar sehat ini telah rampung di bangun kembali dengan kontruksi yang lebih representatif sesuai dengan konsep pasar sehat.

    Peresmian pasar ini ditandai dengan pembukaan tirai selubung papan nama oleh Illiza dan Ketua DPRK, Arif Fadillah. Bersamaan dengan Pasar Seutui, Illiza juga meresmikan pasar Peuniti.

    Dalam sambuatan resminya, Illiza mengatakan prioritas pembangunan kembali pasar tradisional merupakan wujud keberpihakan yang nyata Pemko terhadap para pedagang kecil dan menengah. Keberadaan pasar tradisional merupakan salah satu sarana publik yang mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.

    Lanjutnya, perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup yang dipromosikan begitu hebat oleh berbagai media telah membuat eksistensi pasar tradisional menjadi sedikit terusik. Namun demikian, pasar tradisional ternyata masih mampu untuk bertahan dan bersaing di tengah serbuan pasar modern dalam berbagai bentuknya. Masyarakat masih memiliki budaya untuk tetap berkunjung dan berbelanja ke pasar tradisional.

    Illiza berharap para pedagang senantiasa menjaga kebersihan agar pasar ini lebih nyaman, baik bagi pembeli maupun pedagang.

    “Untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan para pedagang, diharapkan Instansi terkait seperti Disperindagkop agar dapat mengelola pasar ini dengan baik dan professional, baik system listriknya maupun keamanan di komplek pasar,” pinta Illiza.

    Katanya lagi, peran pedagang dan konsumen sangat menentukan pasar tersebut bisa bersih, aman, nyaman dan sehat.

    “Artinya secara mandiri masyarakatlah yang menjadikan pasar itu sehat atau tidak,” tegasnya.

    Dalam kegiatan ini, Illiza menyerahkan sejumlah bantuan kepada para pedagang, diantaranya menyerahkan oven untuk ibu-ibu pembuat kue, menyerahkan peralatan kerja untuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Kimbis, menyerahkan 30 unit gerobak untuk jualan, menyerahkan 750 unit timbangan untuk pedagang seluruh Banda Aceh,  menyerahkan 30 celemek untuk pedagang ikan dan pedagang ayam, menyerahkan 10 komputer (hardware dan software) untuk 10 Koperasi di Banda Aceh, menyerahkan bantuan hibah uang sebesar Rp 50 juta untuk Koperasi Karya Wanita Kota Baru dan menyerahkan hadiah untuk koperasi berprestasi di Banda Aceh. (Mkk)

     

    Pasar Seutui, Pasar Tradisional Percontohan Pertama di Aceh

     Pasar Seutui merupakan pasar tradisional yang dibangun pada tahun 1977. Sejak dibangun, Pasar ini telah menjual berbagai macam komoditi, seperti sayur-sayuran, rempah, ikan, ayam, daging, serta berbagai bumbu halus dan santan. Pasar seutui telah memberikan banyak manfaat baik bagi pedagang maupun para konsumen yang dilayani kebutuhan sehari-harinya.

    Program revitalisasi pasar tradisional membuat pasar ini berubah kontruksi menjadi lebih modern dan sehat. Bersumber dari dana APBN, kontruksi bangunan pasar ini di bangun kembali, kontruksi satu lantai dengan ketinggian atap melebihi 8 meter yang membuat pasar ini jauh dari kesan pengap.

    Melalui Pasar Seutui, Pemerintah Kota Banda Aceh ingin merubah image pasar tradisional yang biasanya identik dengan kondisi yang basah, bau, dan kotor, dengan fasilitas yang minim menjadi sebuah pasar sehat yang tertata rapi, bersih, nyaman dan tertib. Transaksi jual beli di pasar seutui ini masih dilakukan dengan cara-cara tradisional namun memperhatikan aspek-aspek kesehatan dan kebersihan.

    Pasar yang mampu menampung 130 Pedagang ini memiliki fasilitas CCTV yang dapat memantau proses jual beli, fasilitas smoking area dan mushalla. Pasar Seutui baru ini merupakan pasar percontohan yang pertama di Aceh, dengan konsep pasar sehat dan manajemen pengaturan pasar yang terkoordinir dengan baik. Pasar ini diharapkan akan menjadi contoh pasar tradisional dengan pengelolaan secara modern dari segi kebersihan, kenyamanan, keamanan dan ketertiban bagi pasar-pasar di Banda Aceh khususnya. (Mkk)