Daftar e-mail untuk info terbaru

Meriahkan Festifal Seni dan Budaya Islami, Ray “Nineball” Cerita Kisah Hijrahnya

  • Meriahkan Festifal Seni dan Budaya Islami, Ray “Nineball” Cerita Kisah Hijrahnya
  •  

    Banda Aceh- Malam pembukaan Festival Seni dan Budaya Islami 2015, turut dimeriahkan oleh penampilan mantan vokalis Nineball, Ray Shareza. Ia sukses memukau pengunjung lewat dua lagu religi berjudul “Taubat” dan "Dunia Sementara, Akhirat Selamanya".

    Di sela-sela penampilannya, Ray yang kini tergabung dalam grup vokal Medina bersama Sunu ‘Mata Band’, berkisah mengenai perjalanan hijrahnya dari kehidupan gemerlap anak band ke kehidupannya sekarang yang lebih islami. Malam tadi, Ray tampil di atas panggung mengenakan jubah lengkap dengan sorbannya.

    Menurut Ray, cita-citanya sejak SMA yakni menjadi seorang entertainer yang sukses. Idolanya pun banyak sekali, mulai dari Armand Maulana, Kaka Slank, Duta Sheila on 7 hingga Andi Rif. “Cara manggung, teknik blocking, pegang mic, penghayatan lagu, komunikasi dengan audien, apa yang dikenakan, sampai kehidupan di luar panggung saya ikuti semua.”

    “Karena Allah sayang dengan saya, akhirnya saya mendapat hidayah. Pada suatu bulan suci Ramadhan, seorang teman mengajak saya iktikaf di Daarut Tauhid, pondok pesantren pimpinan AA Gym. Mulai saat itu, cita-cita saya pun beralih sedikit demi sedikit, dan kini cita-cita saya berubah yakni ingin sukses masuk surga-nya Allah SWT,” kata Ray.

    Mulai saat itu pula, aku Ray, idolanya pun berubah. “Walaupun saya tahu Armand itu rajin ibadahnya, saya kerap lihat Armand sholat di backstage, tapi belum tentu jaminan masuk surga. Setelah saya berguru ke banyak ustaz, akhirnya saya temukan idola saya, Nabi Muhammad SAW.”

    “Segala kelebihan para nabi lain ada pada diri Rasulullah SAW. Saya pun berusaha meniru gaya hidup Rasul, dan saya juga mencoba untuk mulai berdakwah. Dakwah itu ibaratnya seperti melempar bola ke dinding, semakin kuat lemparannya, semakin kuat pula memantul ke diri kita sendiri.”

    Ray tak menampik jika kini ia kerap dijauhi oleh teman-teman seprofesinya dulu. “Tantangan tentu ada, karena lingkungan saya (dunia artis) adalah ‘lembah kemaksiatan’. Dunia ini gak lama lagi kata ulama, dunia sementara semntara akhirat selamanya. Manusia yang paling cerdas adalah yang paling sering mengingat kematian, dan ia mempersiapkan diri untuk itu,” ujar Ray.  (Jun)