Daftar e-mail untuk info terbaru

Kepala Museum Negeri Kelantan Belajar Pengelolaan Museum ke Banda Aceh

  • Kepala Museum Negeri Kelantan Belajar Pengelolaan Museum ke Banda Aceh
  •  

    Banda Aceh – Kepala Museum Negeri Kelantan Malaysia, YABrs Tuan Haji Dr Nik Muhammad Azlan Bin Ab Hadi bersama dengan sejumlah stafnya mengunjungi Kota Banda Aceh. Kedatangan Nik Muhammad Azlan disambut langsung Walikota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE, Jumat (3/7/2015) di ruang rapat Walikota.

    Nik Muhammad Azlan mengungkapkan kedatangannya, selain untuk menguatkan ukhuwah Islamiah juga dalam rangka mempelajari manajemen pengelolaan museum di Banda Aceh.

    “Setelah bencana tsunami yang melanda Banda Aceh, kami lihat perkembangan museum di sini sangat bagus, kami ingin mempelajari seperti apa pengelolaannya,” ujar Nik Muhammad Azlan.

    Selain itu, Nik Azlan juga menilai pembangunan infrastruktur dan rumah penduduk menjadi lebih baik dari sebelum musibah. “Bagaimana saja kiat pembangunannya, karena kami juga pernah mengalami musibah banjir yang menghancurkan beberapa rumah penduduk, meski tidak dalam skala besar, tapi Kelantan memiliki kendala dalam membangunnya kembali pada waktu itu,” tambah Nik Azlan.

    Walikota dalam kesempatan ini menjelaskan bahwa semua pengelolaan museum di Banda Aceh dibawah otoritas Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. Namun ada satu Museum, yakni Rumah Budaya yang memang dibangun dari awal oleh Pemerintah Kota Banda Aceh.

    “Museum Tsunami dikelola provinsi, kemudian sebagian dari peninggalan benda-benda Purbakala di bawah otoritas Pemerintah Pusat, Namun dalam pengelolaannya tetap membangun komunikasi dengan Pemerintah Kota karena lokasi Museum berada di wilayah Kota yang merupakan Ibukota Provinsi,” ujar Illiza.

    Terkait dengan pembangunan Infrastruktur dan perumahan penduduk pasca tsunami, Sekadkota, Ir Bahagia DiplSE yang juga hadir dalam pertemuan menambahkan bahwa Pemerintah Indonesia yang saat itu dipimpin SBY membentuk BRR setelah enam bulan musibah tsunami. BRR dibentuk untuk melakukan rekontruksi dan rehabilitasi Aceh dan Nias.

    “Waktu itu focus rekontruksi di Banda Aceh yang merupakan wialyah terparah dari musibah tsunami. Sekitar 20 ribu unit rumah yang hancur kembali dibangun, tapi hanya 700 rumah yang dibangun di lokasi lain, sementara sisanya tidak dapat direlokasi karena kendala lahan,” tambah Sekda.

     

    Tingkat Kunjungan, Mayoritas Pelancong dari Malaysia

     Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Kota Banda Aceh, Fadhil S Sos dalam pertemuan ini mengungkapkan bahwa tingkat kunjungan wisatawan luar negeri ke Banda Aceh meningkat karena ketertarikan mereka terhadap sejarah tsunami.

    “dari semua wistawan luar negeri, mayorita pelancong dari Malaysia, angkanya mencapai 70 %,” ungkap fadhil.

    Didepan tamu dari Kelantan, Fadhil menyampaikan apresiasi terhadap wisatawan Malaysia. Kata Fadhil, pihaknya bangga dipilih sebagai destinasi wisata oleh masyarakat Malaysia. Menurutnya hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah Kota Banda Aceh yang menjadikan sejarah Tsunami sebgai kekuatan tourism di Banda Aceh.

    Sesuai arahan Walikota, Fadhil berjanji akan terus mengembangkan sector wisata tsunami di Banda Aceh. “Kedepan kita akan bangun Museum PLTD Apung, museum ini sebagai pembelajaran bagi kita utnuk mengingat betapa dahsyatnya tsunami yang membuat kapal tersebut terdampar dari Pelabuhan Ule Lheu hingga sejauh 4 Km ke pemukiman penduduk,” ujar Fadhil. (Mkk)