Daftar e-mail untuk info terbaru

Inovasi Pelayanan Publik 2015, 3 Nominasi Banda Aceh masuk dalam Top 99

  • Inovasi Pelayanan Publik 2015, 3 Nominasi Banda Aceh masuk dalam Top 99
  •  

    Jakarta – Kemeneterian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi kembali menyelenggarakan penghargaan inovasi pelayanan publik tahun 2015. Dari 1.188 inovasi seluruh Indonesia, Pemko Banda Aceh memastikan tiga nominasi masuk dalam top 99 inovasi pelayanan publik tahun 2015.

    Walikota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE, Senin (6/4/2015) dalam presentasinya di Kantor Kemen PAN dan RB lantai II, jakarta, di Jakarta menjelaskan,  ketiga nominasi tersebut ‘Balee Inong (Rumah Perempuan) melalui Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Banda Aceh’, ‘Hutan Kota Tibang Dari Lahan Kritis Menuju Hutan Kota Impian’ dan ‘IPLT Terkelola Warga Bahagia melalui Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota Banda Aceh.

    Kata Illiza, Balee Inong memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain. Balee Inong merupakan inisiatif Illiza sebagai upaya meningkatkan pemberdayaan perempuan dengan strategi melibatkan perempuan dalam perencanaan pembangunan agar berkeadilan gender. Selain itu, terbentuknya Balee Inong untuk mendorong motivasi perempuan agar lebih terlibat dalam proses perencanaan pembangunan.

    “Ini model perencanaan partisipatif, satu-satunya di Provinsi Aceh yang telah sukses dalam bidang pengelolaan ekonomi mikro, menciptakan akses perempuan di berbagai kegiatan pembangunan dan memunculkan tokoh-tokoh-tokoh perempuan yang berasal dari gamong (Desa).

    Terkait Hutan Kota Tibang, program ini merupakan kolaborasi antara Pemko Banda Aceh, Bank BNI dan Yayasan Bustanussalatin, dimana Pemko yang menyediakan lahan, Bank BNI menyediakan pembiayaan melalui CSR BNI "Go Green" dan Yayasan Bustanussalatin yang membuat konsep. Pada masa proses pembangunannya, Hutan Kota Tibang melibatkan 56 orang warga Desa yang semuanya perempuan. Sejak tahun 2014, pengelolaan Hutan Kota Tibang seluas 7,1 ha dan menghasilkan oksigen 3 ton oksigen/ hari serta menyerap 37 ton karbondioksida telah diserahkan kepada Pemko Banda Aceh melalui Dinas Kebersihan, Keindahan Kota Banda Aceh.

    Lanjut Illiza, adapun inovasi dari Hutan Kota Tibang adalah pembangunannya yang dilakukan dari nol dimana bergerak dari lahan kritis dan tandus karena salah-satu merupakan wilayah yang terkena dampak tsunami parah sehingga kwalitas tanahnya urugan berbatu, terwujud atas dasar pola kerjasama, kolaborasi, sinergi dan terintegrasi dengan baik antara pemerintah, pihak swasta dan masyarakat, kepekaan terhadap karakteristik lahan dan kepekaan lingkungan, fleksinilitas dalam pembangunan dan melibatkan masyarakat setempat secara penuh dan keunikan dari Hutan Kota Tibang adalah hampir semua jenis pohon dapat tumbuh subur di lahan yg dahulunya rawa, menjadi habitat baru bagi 25 jenis burung, kupu-kupu dan biota air lainnya.

    Sementara terkait dengan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT), Illiza mengatakan proyek ini dibangun dengan pendanaan hibah dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Unicef. Saat ini IPLT telah memiliki tenaga operator yang terlatih dan mampu melayani penyedotan tinja hingga kewilayah Aceh Besar.  Inovasi dari IPLT ini adalah efiensi dalam penggunaan sumber daya, seperti listrik, tenaga kerja dan anggran.

    “Seluruh biaya operasional dan pemeliharaan tertutupi dari PAD (Cost Recovery). Fasilitas instalasi terawat dengan baik, operasional sesuai SOP” kata Illiza.

    Kelebihan lain dari IPLT ini, pengolahan pupuk dari bahan tinja ini tidak menyisakan bau di area IPLT. Bahkan lokasi yang terletak di Gampong Jawa ini sejuk dan hijau. kwalitas effluentnya dipantau secara rutin dan memenuhi baku mutu.

    Keunikan IPLT ini adalah, meskipun tidak ada pemisahan antara operator dan regulator, namun operasional dapat berjalan dengan baik dan efisien. Saat ini IPLT ini menjadi referensi dalam pembangunan beberapa IPLT di kota lainnya. IPLT milik Pemko Banda Aceh ini juga menjadi obyek kunjungan dan lokasi rekreasi bagi anak-anak sekolah.

    “Mereka menghabiskan waktu bermain dan makan bersama di area ini. IPLT ini juga menjadi obyek penelitian oleh mahasiswa dan akademisi baik dari Universitas di dalam negeri maupun luar negeri dan menjadi obyek studi banding dan kunjungan kerja lapangan dari berbagai pelatihan” tambah Illiza.

    Tampil sebagai juri pada penghargaan Inovasi Pelayanan Publim tahun 2015 ini, Prof Siti Zuhro dari LIPI, Kristiandi, dan Neneng. (Mkk)